Suku-suku
bangsa di Sulawesi Tenggara yakni Buton, Muna, Tolaki, Mekongga dan Moronene :
·
SUKU
BUTON
Suku buton adalah suku terbesar pertama yang ada di Sulawesi
Tenggara.Secara umum, orang Buton adalah masyarakat yang berada wilayah
kekuasaan Kesultanan Buton. Daerah-daerah tersebut, kini secara teritorial
Negara Kesatuan Republik Indonesia telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di
Sulawesi Tenggara diantaranya Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton
Utara, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana dan Kabupaten Muna.
Beberapa
pendapat menyatakan bahwa nenek moyang dari orang-orang Buton adalah “imigran”
yang datang dari wilayah Johor sekitar abad ke-15 Masehi yang kemudian
mendirikan kerajaan Buton.Pada tahun 1960, dengan mangkatnya sultan yang
terakhir, kesultanan Buton konon “dibubarkan” tetapi tradisi-tradisi istana itu
telah melekat erat pada orang-orang yang mendiami wilayah tersebut.
Mereka
juga memiliki mata uang yang disebut uang Kampua yang terbuat dari kain
tenun.Merupakan satu-satunya mata uang yang pernah beredar di
Indonesia.Berdasarkan tradisi cerita rakyat Buton, Kampua konon pertama kali
diperkenalkan oleh Ratu kerajaan Buton bernama Bulawambona/wakaakaa yang
memerintah sekitar abad ke-14 Masehi. Karakter dari suku Buton adalah pelaut,
hampir sama dengan suku-suku yang berada di kepulauan Nusantara. Orang-orang
Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan
perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu
besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.
Sebagian
besar orang-orang Buton bermata pencaharian sebagai pelaut dan nelayan.Perairan
di wilayah pulau Buton dan di daerah Mina diberkati dengan hasil ikan tuna yang
melimpah. Usaha-usaha lain dalam memenuhi kebutuhan hidup dari orang Buton juga
berasa dari kegiatan pertanian dan perkebunan.
Sejumlah
kearifan dari tradisi yang ada dalam masyarakat Buton adalah kangkilo
yang merupakan modal sosial
budaya masyarakat Buton untuk mewujudkan keselarasan dan keharmonisan hidup
mereka.Kearifan itu telah membentuk karakter dari prilaku masyarakat orang
Buton yang sesuai dengan nilai, etika, dan juga moral yang telah tertanam sejak
lama dalam tradisi mereka.
·
SUKU
MUNA
Suku Muna atau Wuna adalah suku yang mendiami
Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Dari bentuk tubuh, tengkorak, warna
kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal) terlihat bahwa orang Muna
asli lebih dekat ke suku-suku Polynesia dan Melanesia di Pasifik dan Australia ketimbang ke Melayu. Hal ini diperkuat dengan
kedekatannya dengan tipikal manusianya dan kebudayaan suku-suku di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor dan Flores umumnya.Motif sarung tenunan di NTT
dan Muna sangat mirip yaitu garis-garis horisontal dengan warna-warna dasar
seperti kuning, hijau, merah, dan hitam. Bentuk ikat kepala juga memiliki
kemiripan satu sama lain.
Orang Muna juga memiliki kemiripan
fisik dengan suku Aborigin di Australia.Sejak dahulu hingga sekarang
nelayan-nelayan Muna sering mencari ikan atau teripang hingga ke perairan
Darwin.Telah beberapa kali Nelayan Muna ditangkap di perairan ini oleh
pemerintah Australia. Kebiasaan ini boleh jadi menunjukkan adanya hubungan
tradisional antara orang Muna dengan suku asli Australia: Aborigin.
Orang
Muna menjadi penghuni Pulau Muna dan Pulau-pulau lainnya sejak jaman
purbakala.Hal ini dibuktikan dengan ditemukan relief purba di gua Liangkobori
dan Gua Metanduno.Menurut beberapa penelitian relief tersebut telah berusia
lebih dari 25.000 tahun.Relief yang ada di Gua Liangkobori dan Metanduno secara
jelas menceritakan aktifitas Orang Muna saat itu.Dari relief tersebut
menggambarkan bahwa walau Orang Muna masih menempati Gua sebagai tempat tinggal
mereka, tetapi mereka telah memiliki peradaban dan kebudayaan yang cukup
tinggi.Orang Muna saat itu seperti yang diceritakan dari relief tersebut telah
menggunakan alat-alat pertanian dalam bercocok tanam.Pengetahuan mereka
dibidang astronomi juga mulai mengalaami perkembangan.Hal ini dapat dilihat dari
gambar matahari, bintang dan bulan.
Ada
beberapa nama Rasi bintang yang menjadi petunjuk untuk melakukan aktifitas
pertanian. Misalnya saja Rasi Bintang yang di namakan Fele, apabila rasi
bintang ini sudah mulai terlihat jelas, maka aktifitas membersikan lahan segera
di mulai sebab satu bulan lagi hujan pertama akan turun. Apabila hujan sudah
turun maka pembakaran lahan dimulai.
Sebagai catatan
sebelum pengikut Sawerigading datang di Pulau Muna, penduduk asli Pulau Muna
saat itu masih mendiami gua-gua yang memang banyak terdapat di Pulau Muna
sebagai tempat tinggal mereka.Kehidupan mereka masih sangat tergantung dengan
alam.Mereka hidup dari berburu hewan dan memetik langsung makanan dari
alam.Penduduk asli Pulau Muna belum mengenal bercocok tanam.
Peradaban dan
kebudayaan Suku asli Pulau Muna mulai berkembang setelah berbaur dengan empat
puluh orang pengikut Sawerigading.Pola hidup mereka yang mengandalkan meramu
dan berburu berupa dengan polah bercocok tanam.Mereka juga mulai membentuk
koloni-koloni dan mulai membangun perkampungan di luar gua.
Seiring dengan
pertambahan penduduk, koloni-koloni tersebut berubah menjadi kampong dan
permasalahan mereka menjadi komplek. Untuk mengatur kehidupan social mereka,
kemudian mereka mengangkat seorang pemimpin diantara mereka yang di gelar
dengan kamokula ( Yang di tuakan ).
Orang
Muna Dalam membangun Peradaban di Negeri Buton
Dalam hikayat
Mia Patamiana, dikisahkan bahwa pada saat Armada Simalui yang berjumlah 40
orang mendarat di sebelah Timur Laut Negeri Buton ( diperkirakan disekitar
Kamaru ) pada tahun 1236 M, mereka bertemu dan berbaur dengan masyarakat local
kemudian membentuk sebuah pemukiman. Selain itu mereka juga membuat benteng
sebagai pertahanan dari serangan dari luar.
Demikian juga
dengan armada Mia Pata Miana yang lain ( Sipanjonga, Sijawangkati dan
Sitamanjo), pada saat mendarat di suatu wilayah mereka langsung berbaur dengan
masyaarakat Lokal yang menggunakan bahasa Pancana (Muna) sebagai bahasa tutur mereka. Ini
diperkuat dengan masih dipertahankannya bahasa Muna ( Pancana ) sebagai bahasa
tutur dimana Wilayah-wilayah pendaratan armada Mia Patamiana tersebut.
Dari fakta ini
dapat di asumsikan bahwa jauh sebelum Mia Patamiana mendarat di negeri Buton,
Suku asli Muna telah menjadi penghuni Pulau Buton. Tidak sampai disitu saja,
ketika Kerajaan Buton dipimpin oleh raja Buton V yang bernama La Mulae terjadi
kekacauan yang luar biasa di kerajaan Buton akbiat terror yang dilakukan oleh
La Bolontio seorang bajak laut dari Tobelo.
Teror tersebut nyaris meruntuhkan kerajaan Buton.Dalam Kondisi yang kacau balau itulah, Putera raja Muna VI Sugi Manuru yang bernama La Kilaponto datang menyelamatkan Negeri Buton dari kehancuran. Dengan kesaktiannya dalam waktu singkat penyebar terror tersebut dapat ditumpas ( Baca; La Kilaponton Omputo Mepokonduaghono Ghoera ). Setelah Raja Buton V meninggal, tidak ada satupun yang berani menggantikannya untuk menjadi raja.Olehnya itu para tetua dinegeri Buton bersepakat untuk melantik La Kilaponto menjadi Raja buton menggantikan La Mulae.Padahal waktu itu La kilaponto baru saja dilantik menjadi Raja Muna VII menggantikan ayahandanya Sugi Manuru yang telah tua. Terhitung sejak masa pemerintahan La Kilaponto sampai masa pemerintahan Sultan Buton IV La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin orang Muna menjadi penguasa dan berperan melakukan penataan terhadap sistem pemerintahan, hukum dan mebangun tatanan social kemasyarakat di negeri Buton adalah selama hampir dari dua ratus tahun.
Teror tersebut nyaris meruntuhkan kerajaan Buton.Dalam Kondisi yang kacau balau itulah, Putera raja Muna VI Sugi Manuru yang bernama La Kilaponto datang menyelamatkan Negeri Buton dari kehancuran. Dengan kesaktiannya dalam waktu singkat penyebar terror tersebut dapat ditumpas ( Baca; La Kilaponton Omputo Mepokonduaghono Ghoera ). Setelah Raja Buton V meninggal, tidak ada satupun yang berani menggantikannya untuk menjadi raja.Olehnya itu para tetua dinegeri Buton bersepakat untuk melantik La Kilaponto menjadi Raja buton menggantikan La Mulae.Padahal waktu itu La kilaponto baru saja dilantik menjadi Raja Muna VII menggantikan ayahandanya Sugi Manuru yang telah tua. Terhitung sejak masa pemerintahan La Kilaponto sampai masa pemerintahan Sultan Buton IV La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin orang Muna menjadi penguasa dan berperan melakukan penataan terhadap sistem pemerintahan, hukum dan mebangun tatanan social kemasyarakat di negeri Buton adalah selama hampir dari dua ratus tahun.
·
SUKU
TOLAKI
Suku Tolaki, merupakan salah satu
suku terbesar yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara di samping Suku Buton dan
Suku Muna. Suku Tolaki mendiami beberapa wilayah Kabupaten dan Kota yakni Kota
Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe Utara dan
Kabupaten Kolaka dimana kedua Kabupaten induk tersebut berdiam dua ednis Suku
Tolaki yang terbesar yakni Suku Tolaki Mekongga dan Suku Tolaki Konawe.
Menurut Tarimana,R (1993) pada mulanya orang Tolaki
merupakan migrasi dari Tanah Cina, pada awal pelayaran mereka singgah di
Kepulauan Filipina kemudian berlanjut singgah pada pesisir Pulau Sulawesi yakni
Manado selanjutnya mereka berpaling menuju pada Kepulauan Halmahera, dari
kepulauan inilah kemudian berlanjut memasuki pesisir tenggara Pulau Sulawesi,
ada juga beberapa pendapat yang mengatakan behwa Suku Tolaki berasal dari
masyarakat Pulau Jawa yang melakukan pelayaran singgah pada Pulau Buton kemudian
baru masuk pada pesisir tenggara daratan Pulau Sulawesi.
Kedatangan muasal Suku Tolaki mereka kemudian menyusuri
sungai dari arah muara sungai Lasolo dan muara sungai Konawe sampai bertemu
pada kedua hulu sungai tersebut yakni disekitar Pegunungan Tangkelaboke.Dari
pertemuan tersebut kemudian mereka membentuk suatu perkampungan yang daerahnya
dinamai dengan Andolaki, dari Andolaki inilah mereka menyebar
pada beberapa daerah di Sulawesi Tenggara ini.
Pada mula kedatangan muasal masyarakat Tolaki mereka
membentuk suatu koloni di sekitar sungai yang berada pada lembah (angalo)
yang diangap subur oleh mereka rumah-rumah mereka terpusat pada para
prajuri/kesatria (Tamalaki) sebagai pelindung dari ancaman, dari koloni
ini membentuk beberapa koloni, sehingga menjadi koloni sedang/kampung (onapo)
yang dipimpin oleh kepala suku/orang tua (Tonomotuo) dalam
perkembangannya terbentuklah beberapa kampung yang membentuk Distrik/setingkat
Kecamatan (O Tobu) yang dikepalai oleh Putobu. Dikarenakan akan
pertumbuhan yang semakin pesat maka terbentuklah berbagai distrik-distrik
lainnya yang membentuk suatu tatanan wilayah masyarakat Tolaki yang disebut Wonua
(setingkat Kabupaten) yang dipimpin oleh seorang Raja (Mokole)
Orang Tolaki pada mulanya menamakan dirinya Tolohianga
(orang dari langit) hal ini mungkin dikarenakan mereka berasal dari daratan
yang tinggi/Pegunungan Tangkelaboke (asumsi). Menurut Tarimana, R
(1993), mungkin yang dimaksud “langit” adalah “kerajaan langit” sebagaimana
dikenal dalam budaya Cina (Granat, dalam Needhan; 1973, yang dikutip Tarimana).
Dalam dugaannya, ada keterkaitan antara kata “hiu” yang dalam bahasa
Cina berarti “langit“ dengan kata “heo” (Tolaki) yang berarti “ikut dari
langit”.
Pada pemaparan diatas asal-usul budaya dan peradaban Tolaki
tampaknya lebih mudah diterima jika dikaitkan dengan pola migrasi
noe-litikum.Selain asal-usulnya, hal yang sukar diketahui dengan pasti adalah
masa pemerintahan raja-raja, dalam legenda rakyat terdapat dua kerajaan lokal
yang besar (Konawe dan Mekongga).Menurut tradisi tutur, raja
Sangia Ngginoburu (Konawe) dan raja Sangia Nibandera (Mekongga)
diperkirakan memerintah pada saat Islam telah diterima (Tarimana, R; 1993).
Ciri dan budaya
arsitektur Tolaki masih dalam penelusuran namun dalam perkembangannya ciri dan
budaya arsitektur Tolaki terletak pada rumah adat orang Tolaki itu
sendiri.Berdasarkan pemaparan Ir. Sachrul Ramadhan. MT (2004) dalam Seminar
Penelusuran Arsitektur Tradisional Tolaki membagi pendapat beberapa ahli
seperti Cohen, A. P (1985) yang berpendapat bahwa dalam masyarakat tradisional,
sering kali dipandang bahwa rumah merupakan wujud microcosmos dari keseluruhan
alam semesta. Setiap unsur yang membentuk rumah, melambangkan unsur-unsur
tertentu dari alam semesta
Dari hasil studi
arsitektural dan etnografi, yang menjadi core elemen dalam rumah adat
Tolaki adalah 9 jajar tiang dengan diperkuat balok lintang (powuatako) dan
memanjang (nambea).Dalam jajaran tiang ini terdapat satu tiang utama yang
disebut dengan tiang petumbu yang terletak ditengah baris dan lajur ke-9
tiang ini.
Arsitektur
Tolaki maksudnya adalah bangunan yang digunakan untuk tujuan propessional
ataupun administrasi menampilkan ciri budaya arsitektur setempat dengan maksud
dapat memberikan jati diri, sebagai aspirasi pemerintah mengenai hubungan
pemerintah dengan masyarakat yang mencerminkan peningkatan pelayanan dan
pengabdian kepada bangsa dan negara.
Yang terpenting dari semua itu adalah arti dari tarian Lulo sendiri, yang
mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang cinta damai dan
mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam menjalani kehidupannya. Seperti
filosofi masyarakat Tolaki yang diungkapkan dalam bentuk pepatah samaturu,
medulu ronga mepokoaso, yang berarti masyarakat Tolaki dalam menjalani
perannya masing-masing selalu bersatu, bekerja sama, saling tolong–menolong dan
bantu-membantu.
·
SUKU MEKONGGA
Suku Mekongga, adalah salah suatu komunitas
masyarakat adat yang berdiam di kabupaten Kolaka dan sebagian kecil juga
terdapat di kabupaten Kolaka Utara Sulawesi Tenggara. Suku Mekongga merupakan
salah satu sub-etnik dari suku Tolaki.Menurut orang Tolaki, bahwa orang
Mekongga adalah orang Tolaki juga. Istilah Mekongga, konon berasal dari kata
"to mekongga", yang berarti "to" berarti "orang"
dan "mekongga" berarti "pembunuh burung elang raksasa",
jadi kata "to mekongga" berarti "orang yang membunuh burung
elang raksasa". Sedangkan burung elang raksasa dalam bahasa Mekongga
adalah "Konggaha’a".
Kabupaten Kolaka tempat kediaman
suku Mekongga ini disebut juga sebagai "Bumi Mekongga". Di
daerah pemukiman orang Mekongga terdapat sebuah gunung yang bernama gunung
Mekongga.Menurut orang Mekongga sendiri gunung Mekongga merupakan gunung
keramat. Menurut cerita rakyat, di gunung ini terdapat Tebing Putih yang
bernama Musero-sero yang merupakan pusat kerajaan jin untuk wilayah Kolaka
Utara.
Dari satu cerita rakyat bahwa asal
usul orang Mekongga, adalah berasal dari 2 kelompok orang dalam waktu yang sama
sedang melakukan perjalanan migrasi ke daratan Sulawesi Tenggara. Kelompok
pertama bermukim pertama kali di daerah hulu sungai Konaweeha, melalui daerah
Mori dan Bungku bagian timur laut Sulawesi. Sedangkan kelompok lain melalui
danau Towuti dan terus ke arah selatan. Kedua kelompok ini bertemu di suatu
tempat yang disebut Rahambuu dan tinggal beberapa lama, dan terjadi percampuran
etnis setelah melakukan perkawinan campur di antara mereka, sehingga mereka
menjadi satu etnis.Setelah sekian lama hidup di tempat ini, kelompok ini
terpecah dua dan pergi meninggalkan tempat ini.Kelompok pertama berjalan
menyusuri lereng gunung Watukila lalu membelok ke arah barat daya dan sampai di
suatu tempat yang mereka namakan Lambo, Laloeha, dan Silea.Mereka inilah yang kemudian
menamakan diri sebagai orang Mekongga yang menempati wilayah Kolaka
sekarang.Sedangkan yang satu kelompok berjalan menyururi sungai Konaweeha dan
tiba di suatu tempat yang bernama Andolaki, lalu dari tempat ini, mereka
melanjutkan perjalanan hingga sampai di suatu tempat yang luas yang ditumbuhi
alang-alang dan tempat ini mereka namakan Unaaha.Tempat ini kemudian menjadi
pusat pemerintahan Kerajaan Konawe yang wilayahnya meliputi seluruh wilayah
Kabupaten Kendari. Di tempat ini lah mereka berkembang menyebarkan wilayah
pemukiman dengan cara menempati daerah-daerah yang subur untuk berlandang,
berburu, beternak dan selanjutnya kelompok ini menamakan diri mereka sebagai
orang Tolaki Konawe.
Berdasarkan
cerita di atas, maka ada anggapan bahwa suku Mekongga dan suku Tolaki adalah
berasal dari suatu tempat yang sama. Walaupun pada dasarnya saat ini mereka
memiliki identitas yang berbeda, tetapi berdasarkan asal usul sejarah, mereka
berasal dari satu nenek moyang yang sama. Masyarakat Mekongga dalam menjaga alam
mereka memiliki tata aturan adat sendiri dalam mengelola alam sekitar mereka.
Membuka lahan baru dengan cara membakar masih dipraktekan oleh suku Mekongga,
tapi dengan tata aturan adat mereka. Pembukaan kawasan hutan dengan cara
menebang pepohonan dan membakarnya dilakukan dengan beberapa tahapan:
- Monggiikii ando'olo, pemilihan lokasi perladangan
- Mohoto o wuta, upacara pra monda’u
- Mosalei, menebang pepohonan kecil, menebas akar-akaran dan lain-lain
- Monduehi, menebang pepohonan besar
- Humunu, membakar
- Mo'enggai, membersihkan sisa-sisa pembakaran
- Motasu, menanam padi
- Mosara dan Mete'ia, membersihkan rerumputan dan menjaga tanaman
- Mosawi, panen
- Molonggo, memasukan ke dalam lumbung
Oleh karena itu suku Mekongga tidak
pernah secara kasar membuka lahan, semua telah diatur oleh sistem adat suku
Mekongga, sehingga kelestarian alam tetap terjaga.Masyarakat suku Mekongga pada
umumnya hidup pada bidang pertanian.Mereka menanam padi sebagai tanaman pokok
mereka.Selain itu mereka juga menanam jagung, ubi kayu dan ubi jalar.Beberapa
hewan ternak juga menjadi kegiatan tambahan bagi mereka.Di antara mereka ada
juga yang menjadi pedagang dan juga berprofesi sebagai nelayan penangkap
ikan.Saat ini banyak juga dari orang Mekongga yang telah bekerja di sektor
swasta dan sektor pemerintahan.
·
SUKU MORONENE
Suku Moronene adalah salah satu dari sekian
banyak kelompok masyarakat adat-dulu sering disalahartikan sebagai suku
terasing-di Sulawesi Tenggara.Di kaki pulau yang mirif huruf K
itu ada suku Buton, Muna, Tolaki dan Mekongga.
Menurut antropolog Universitas Haluoleo, Kendari, Sarlan Adi Jaya, Moronene adalah
suku asli pertama yang mendiami wilayah itu.Namun, pamornya kalah dibanding
suku Tolaki karena pada abad ke-18 kerajaan suku Moronene-luas wilayahnya
hampir 3.400 kilometer persegi-kalah dari kerajaan suku Tolaki.
Kata "moro" dalam
bahasa setempat berarti serupa, sedangkan "nene" artinya pohon
resam, sejenis paku yang biasanya hidup mengelompok.Kulit batangnya bisa
dijadikan tali, sedangkan daunnya adalah pembungkus kue lemper.Resam hidup
subur di daerah lembah atau pinggiran sungai yang mengandung banyak air.Sebagai
petani, peramu, dan pemburu, suku Moronene memang hidup di kawasan sumber
air.Mereka tergolong suku bangsa dari rumpun Melayu Tua yang datang dari Hindia
Belakang pada zaman prasejarah atau zaman batu muda, kira-kira 2.000 tahun
sebelum Masehi.
Tidak diketahui kapan tepatnya suku
Moronene mulai menghuni kawasan Taman
Nasional Rawa Aopa Watumohai. Tetapi sebuah peta yang dibuat
pemerintah Belanda pada tahun 1820 sudah mencantumkan nama Kampung Hukaea,
yakni kampung terbesar orang Moronene, yang sekarang masuk dalam areal taman
nasional itu. Permukiman mereka tersebar di tujuh kecamatan, enam di Kabupaten Buton dan satu di Kabupaten Kolaka.Di luar komunitas itu, orang
Moronene menyebar pula di beberapa tempat seperti Kabupaten Kendari karena
terjadinya migrasi akibat gangguan keamanan dari Darul Islam sekitar
tahun 1952-1953.
Kampung Hukaea, Laea, dan Lampopala
biasa disebut orang Moronene sebagai Tobu Waworaha atau perkampungan tua bekas
tempat tinggal para leluhur. Orang-orang Moronene masih sering mengunjungi tobu
untuk membersihkan kuburan leluhur mereka ketika hari raya Idul Adha tiba-sebagian warga Moronene
beragama Islam.Belakangan, setelah beberapa kuburan digali dan dipindahkan oleh
orang tak dikenal, orang-orang Moronene bermukim kembali di Hukaea-Laea.Di
zaman administrasi pemerintah Belanda, Hukaea termasuk distrik Rumbia, yang
dipimpin seorang mokole (kepala distrik). Rumbia membawahkan 11 tobu, tujuh di
antaranya masuk dalam wilayah taman nasional. Menurut Abdi, dari LSM Suluh
Indonesia, jumlah orang Moronene di Sulawesi Tenggara saat ini diperkirakan
sekitar 50000an, 0,5 persen di antaranya tinggal dalam kawasan taman nasional.
Seperti kebanyakan masyarakat adat
lainnya, orang Moronene juga melakukan perladangan berpindah dengan sistem
rotasi.Tapi sistem itu sudah lama ditinggalkan dan mereka memilih menetap.Suku
Moronene juga dikenal pandai memelihara ekosistem mereka.Jonga atau sejenis
rusa, misalnya, masih sering ditemui di sekitar permukiman mereka di Hukaea, termasuk
burung kakatua jambul kuning, satwa endemik Sulawesi yang dilindungi.Namun,
sifat asli suku ini, yang memegang tegung adat mosobu (pasrah dan tidak
melawan), dan etos kerjanya yang rendah membuat mereka rentan terhadap
penggusuran.
Buktinya, kehidupan tenang itu
perlahan-lahan terusik ketika pemerintah di tahun 1990 menetapkan kawasan itu
sebagai taman nasional. Dengan alasan itulah aparat Pemda Sulawesi Tenggara
mengerahkan polisi dan tentara menggelar Operasi Sapu Jagat untuk mengusir
keluar orang-orang Moronene.Alasannya, biar hutan tak rusak sehingga bisa
dijual sebagai obyek ekoturisme dan sumber pendapatan da-erah lainnya.Padahal,
hak masyarakat adat atas tanah ulayat mereka diakui oleh Undang-Undang
Kehutanan tahun 1999.
1. Adapun persamaan, perbedaan dan
manfaat dari suku-suku tersebut dalam kehidupan sehari-hari, yakni:
·
Persamaan:
1) Kelima suku tersebut yakni untuk memenuhi
kebutuhannya dalam sehari-hari yaitu dengan bertani dan berkebun.
2) Mayoritas pemeluk agama Islam.
·
Perbedaan :
1) Untuk suku Buton, dan Suku Muna kita
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di samping berkebun dan bertani mereka juga
melaut yaitu sebagai seorang nelayan lain halnya dengan suku Tolaki, Mekongga,
dan Moronene yakni sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan
bertani dan berkebun, dan sebagian lainnya pada suku Mekongga yakni dengan
beternak.
2) Dari segi fisik dari suku-suku
tersebut yakni
o Bentuk fisik dari suku Buton tidak
jauh beda dengan Muna Dari bentuk tubuh,
tengkorak, warna kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal) namun
jika kita telusuri mengenai arsitek rumah di suku Buton kita akan dapati adanya
symbol naga di atap rumah dan itu mencerminkan simbol Tionghoa. Kemudian kita
dapat benda-benda artefak dalam kehidupan suku Buton.
o Orang
Muna asli memiliki kemiripan dengan suku-suku Polynesia dan Melanesia di
Pasifik dan Australia. Dari bentuk tubuh, tengkorak, warna kulit (coklat
tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal) terlihat bahwa orang Muna asli lebih
dekat dengan suku-suku yang ada di Pulau Flores dan Kepulauan Maluku. Tipikal
Muna mirip dengan kebudayaan suku-suku di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor
dan Flores umumnya dan Kepulauan Maluku.
o
Suku tolaki Berbagai
bentuk dan warna serta letak pemakaian pakaian, perhiasan serta kelengkapan itu
mempunyai makna simbolik menurut pandangan masyarakat suku Tolaki. Dari bentuk
dan jenis pakaian dapat memberikan pertanda terhadap ciri dan identitas suku
bangsa. Pakaian adat suku Tolaki agak lebih condong menyerupai bentuk-bentuk
pakaian orang Melayu. Hanya nampak kesederhanaannya, terutama pemakaian sarung
berlapis-lapis pada kaum wanita tidak terdapat pada mereka. Menilik warna
pakaian dizaman lampau, ternyata bahwa pakaian berwarna putih adalah untuk
orang kebanyakan.Suku Tolaki memiliki kemiripan
dengan Melayu dan Mongoloid dan bermata sipit.
o
Suku
mekongga Orang Mekongga secara definitif mendiami wilayah kabupaten Kolaka
(Kolaka dan Kolaka Utara) serta beberapa wilayah yang masuk kabupaten lain di
Sulawesi Tenggara. Secara antropologis (cieee tawwaaaa) perawakan orang
Mekongga bisa deskripsikan sebagai : Kulit kuning langsat atau putih langsat,
rambut lurus atau berombak, mata agak sipit, postur atau tinggi badan sedang
(+- 160 - 170 cm). Ciri-ciri fisik tersebut susah juga dibedakan jika bertemu
dengan salah satu suku asli lainnya seperti Moronene (Mornene atau Marunene)
dan suku yang mendiami pulau-pulau sekitar Konawe dan Kendari. Tapi amat sangat
bisa dibedakan dengan suku Muna dan Buton dari segi tampilan fisik.
o
Suku MoroneneSelama delapan tahun, Bombana menjadi daerah
otonom bentuk fisik hamper sama dengan bentuk fisik suku Mekongga dan Tolaki
yakni warna kulit kuning langsat namun jarang kita dapati bermata sipit seperi
suku Tolaki dan Mekongga kebanyakan.
·
Manfaat sistem sosial budaya dari suku-suku yang ada di
Sultra dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
1) Adanya tradisi kangkilo pada SukuButon yang
merupakan modal sosial budaya masyarakat Buton teleh mengajarkan kepada
masyarakat dari suku ini untuk mewujudkan keselarasan dan keharmonisan hidup
mereka. Kearifan itu telah membentuk karakter dari prilaku masyarakat orang
Buton yang sesuai dengan nilai, etika, dan juga moral yang telah tertanam sejak
lama dalam tradisi mereka.
2) Adanya
beberapa namaRasi bintang pada suku
Muna yang dijadikan sebagai petunjuk untuk melakukan aktifitas pertanian dan
meramal akan suatu musim. Misalnya saja Rasi Bintang yang di namakan Fele,
apabila rasi bintang ini sudah mulai terlihat jelas, maka aktifitas membersikan
lahan segera di mulai sebab satu bulan lagi hujan pertama akan turun. Apabila
hujan sudah turun maka pembakaran lahan dimulai
3) Adanya
tarian Lulo pada suku Tolaki yang mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah
masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam
menjalani kehidupannya. Kemudian filosofi masyarakat Tolaki yang diungkapkan
dalam bentuk pepatah samaturu, medulu ronga mepokoaso, yang berarti
masyarakat Tolaki dalam menjalani perannya masing-masing selalu bersatu,
bekerja sama, saling tolong–menolong dan bantu-membantu.
4) Masyarakat Mekongga dalam menjaga
alam mereka memiliki tata aturan adat sendiri dalam mengelola alam sekitar
mereka. Mereka tidak pernah secara kasar membuka lahan, semua telah diatur oleh
sistem adat suku Mekongga, sehingga kelestarian alam tetap terjaga.
5) Suku Moronene juga dikenal pandai
memelihara ekosistem mereka. Jonga atau sejenis rusa, misalnya, masih sering
ditemui di sekitar permukiman mereka di Hukaea, termasuk burung kakatua jambul
kuning, satwa endemik Sulawesi yang dilindungi.
Sangat disayangkan kepada sang penulis yang banyak sekali membalikan Fakta Tentang Muna Dan Buton ... Refrensi anda sangat tidak Konsisten dengan berbagai Sumber... Saya Asli orang muna
BalasHapusmohon sertakan daftar pustaka yang lengkap. terimakasih
BalasHapusasal-asalan nulis ni....
BalasHapusJgn menulis artikel mengikuti suku apa anda. Logikanya daratan Sultra sangat luas dibanding kepulauan. Kabupaten Kolaka, Koltim,kolut,Konawe,Konsel,konut,KDI mayoritas adalah Tolaki. Dan karena Tolaki menghargai sesama manusia, maka suku2 lain yg datang pun menjadi berdampingan.
BalasHapus