Selasa, 15 Maret 2016



Suku-suku bangsa di Sulawesi Tenggara yakni Buton, Muna, Tolaki, Mekongga dan Moronene :


·         SUKU BUTON

Suku buton adalah suku terbesar pertama yang ada di Sulawesi Tenggara.Secara umum, orang Buton adalah masyarakat yang berada wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Daerah-daerah tersebut, kini secara teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara diantaranya Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Bombana dan Kabupaten Muna.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa nenek moyang dari orang-orang Buton adalah “imigran” yang datang dari wilayah Johor sekitar abad ke-15 Masehi yang kemudian mendirikan kerajaan Buton.Pada tahun 1960, dengan mangkatnya sultan yang terakhir, kesultanan Buton konon “dibubarkan” tetapi tradisi-tradisi istana itu telah melekat erat pada orang-orang yang mendiami wilayah tersebut.
Mereka juga memiliki mata uang yang disebut uang Kampua yang terbuat dari kain tenun.Merupakan satu-satunya mata uang yang pernah beredar di Indonesia.Berdasarkan tradisi cerita rakyat Buton, Kampua konon pertama kali diperkenalkan oleh Ratu kerajaan Buton bernama Bulawambona/wakaakaa yang memerintah sekitar abad ke-14 Masehi. Karakter dari suku Buton adalah pelaut, hampir sama dengan suku-suku yang berada di kepulauan Nusantara. Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok dunia Melayu dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.
Sebagian besar orang-orang Buton bermata pencaharian sebagai pelaut dan nelayan.Perairan di wilayah pulau Buton dan di daerah Mina diberkati dengan hasil ikan tuna yang melimpah. Usaha-usaha lain dalam memenuhi kebutuhan hidup dari orang Buton juga berasa dari kegiatan pertanian dan perkebunan.
Sejumlah kearifan dari tradisi yang ada dalam masyarakat Buton adalah kangkilo yang merupakan modal sosial budaya masyarakat Buton untuk mewujudkan keselarasan dan keharmonisan hidup mereka.Kearifan itu telah membentuk karakter dari prilaku masyarakat orang Buton yang sesuai dengan nilai, etika, dan juga moral yang telah tertanam sejak lama dalam tradisi mereka.

·         SUKU MUNA

Suku Muna atau Wuna adalah suku yang mendiami Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Dari bentuk tubuh, tengkorak, warna kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal) terlihat bahwa orang Muna asli lebih dekat ke suku-suku Polynesia dan Melanesia di Pasifik dan Australia ketimbang ke Melayu. Hal ini diperkuat dengan kedekatannya dengan tipikal manusianya dan kebudayaan suku-suku di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor dan Flores umumnya.Motif sarung tenunan di NTT dan Muna sangat mirip yaitu garis-garis horisontal dengan warna-warna dasar seperti kuning, hijau, merah, dan hitam. Bentuk ikat kepala juga memiliki kemiripan satu sama lain.
Orang Muna juga memiliki kemiripan fisik dengan suku Aborigin di Australia.Sejak dahulu hingga sekarang nelayan-nelayan Muna sering mencari ikan atau teripang hingga ke perairan Darwin.Telah beberapa kali Nelayan Muna ditangkap di perairan ini oleh pemerintah Australia. Kebiasaan ini boleh jadi menunjukkan adanya hubungan tradisional antara orang Muna dengan suku asli Australia: Aborigin.
Orang Muna menjadi penghuni Pulau Muna dan Pulau-pulau lainnya sejak jaman purbakala.Hal ini dibuktikan dengan ditemukan relief purba di gua Liangkobori dan Gua Metanduno.Menurut beberapa penelitian relief tersebut telah berusia lebih dari 25.000 tahun.Relief yang ada di Gua Liangkobori dan Metanduno secara jelas menceritakan aktifitas Orang Muna saat itu.Dari relief tersebut menggambarkan bahwa walau Orang Muna masih menempati Gua sebagai tempat tinggal mereka, tetapi mereka telah memiliki peradaban dan kebudayaan yang cukup tinggi.Orang Muna saat itu seperti yang diceritakan dari relief tersebut telah menggunakan alat-alat pertanian dalam bercocok tanam.Pengetahuan mereka dibidang astronomi juga mulai mengalaami perkembangan.Hal ini dapat dilihat dari gambar matahari, bintang dan bulan.
Ada beberapa nama Rasi bintang yang menjadi petunjuk untuk melakukan aktifitas pertanian. Misalnya saja Rasi Bintang yang di namakan Fele, apabila rasi bintang ini sudah mulai terlihat jelas, maka aktifitas membersikan lahan segera di mulai sebab satu bulan lagi hujan pertama akan turun. Apabila hujan sudah turun maka pembakaran lahan dimulai.
Sebagai catatan sebelum pengikut Sawerigading datang di Pulau Muna, penduduk asli Pulau Muna saat itu masih mendiami gua-gua yang memang banyak terdapat di Pulau Muna sebagai tempat tinggal mereka.Kehidupan mereka masih sangat tergantung dengan alam.Mereka hidup dari berburu hewan dan memetik langsung makanan dari alam.Penduduk asli Pulau Muna belum mengenal bercocok tanam.
Peradaban dan kebudayaan Suku asli Pulau Muna mulai berkembang setelah berbaur dengan empat puluh orang pengikut Sawerigading.Pola hidup mereka yang mengandalkan meramu dan berburu berupa dengan polah bercocok tanam.Mereka juga mulai membentuk koloni-koloni dan mulai membangun perkampungan di luar gua.
Seiring dengan pertambahan penduduk, koloni-koloni tersebut berubah menjadi kampong dan permasalahan mereka menjadi komplek. Untuk mengatur kehidupan social mereka, kemudian mereka mengangkat seorang pemimpin diantara mereka yang di gelar dengan kamokula ( Yang di tuakan ).

Orang Muna Dalam membangun Peradaban di Negeri Buton
Dalam hikayat Mia Patamiana, dikisahkan bahwa pada saat Armada Simalui yang berjumlah 40 orang mendarat di sebelah Timur Laut Negeri Buton ( diperkirakan disekitar Kamaru ) pada tahun 1236 M, mereka bertemu dan berbaur dengan masyarakat local kemudian membentuk sebuah pemukiman. Selain itu mereka juga membuat benteng sebagai pertahanan dari serangan dari luar.
Demikian juga dengan armada Mia Pata Miana yang lain ( Sipanjonga, Sijawangkati dan Sitamanjo), pada saat mendarat di suatu wilayah mereka langsung berbaur dengan masyaarakat Lokal yang menggunakan bahasa Pancana  (Muna) sebagai bahasa tutur mereka. Ini diperkuat dengan masih dipertahankannya bahasa Muna ( Pancana ) sebagai bahasa tutur dimana Wilayah-wilayah pendaratan armada Mia Patamiana tersebut.
Dari fakta ini dapat di asumsikan bahwa jauh sebelum Mia Patamiana mendarat di negeri Buton, Suku asli Muna telah menjadi penghuni Pulau Buton. Tidak sampai disitu saja, ketika Kerajaan Buton dipimpin oleh raja Buton V yang bernama La Mulae terjadi kekacauan yang luar biasa di kerajaan Buton akbiat terror yang dilakukan oleh La Bolontio seorang bajak laut dari Tobelo.
Teror tersebut nyaris meruntuhkan kerajaan Buton.Dalam Kondisi yang kacau balau itulah, Putera raja Muna VI Sugi Manuru yang bernama La Kilaponto datang menyelamatkan Negeri Buton dari kehancuran. Dengan kesaktiannya dalam waktu singkat penyebar terror tersebut dapat ditumpas ( Baca; La Kilaponton Omputo Mepokonduaghono Ghoera ). Setelah Raja Buton V meninggal, tidak ada satupun yang berani menggantikannya untuk menjadi raja.Olehnya itu para tetua dinegeri Buton bersepakat untuk melantik La Kilaponto menjadi Raja buton menggantikan La Mulae.Padahal waktu itu La kilaponto baru saja dilantik menjadi Raja Muna VII menggantikan ayahandanya Sugi Manuru yang telah tua. Terhitung sejak masa pemerintahan La Kilaponto sampai masa pemerintahan Sultan Buton IV La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin orang Muna menjadi penguasa dan berperan melakukan penataan terhadap sistem pemerintahan, hukum dan mebangun tatanan social kemasyarakat di negeri Buton adalah selama hampir dari dua ratus tahun.

·         SUKU TOLAKI

Suku Tolaki, merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Provinsi Sulawesi Tenggara di samping Suku Buton dan Suku Muna. Suku Tolaki mendiami beberapa wilayah Kabupaten dan Kota yakni Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe Utara dan Kabupaten Kolaka dimana kedua Kabupaten induk tersebut berdiam dua ednis Suku Tolaki yang terbesar yakni Suku Tolaki Mekongga dan Suku Tolaki Konawe.
Menurut Tarimana,R (1993) pada mulanya orang Tolaki merupakan migrasi dari Tanah Cina, pada awal pelayaran mereka singgah di Kepulauan Filipina kemudian berlanjut singgah pada pesisir Pulau Sulawesi yakni Manado selanjutnya mereka berpaling menuju pada Kepulauan Halmahera, dari kepulauan inilah kemudian berlanjut memasuki pesisir tenggara Pulau Sulawesi, ada juga beberapa pendapat yang mengatakan behwa Suku Tolaki berasal dari masyarakat Pulau Jawa yang melakukan pelayaran singgah pada Pulau Buton kemudian baru masuk pada pesisir tenggara daratan Pulau Sulawesi.
Kedatangan muasal Suku Tolaki mereka kemudian menyusuri sungai dari arah muara sungai Lasolo dan muara sungai Konawe sampai bertemu pada kedua hulu sungai tersebut yakni disekitar Pegunungan Tangkelaboke.Dari pertemuan tersebut kemudian mereka membentuk suatu perkampungan yang daerahnya dinamai dengan Andolaki, dari Andolaki inilah mereka menyebar pada beberapa daerah di Sulawesi Tenggara ini. 
Pada mula kedatangan muasal masyarakat Tolaki mereka membentuk suatu koloni di sekitar sungai yang berada pada lembah (angalo) yang diangap subur oleh mereka rumah-rumah mereka terpusat pada para prajuri/kesatria (Tamalaki) sebagai pelindung dari ancaman, dari koloni ini membentuk beberapa koloni, sehingga menjadi koloni sedang/kampung (onapo) yang dipimpin oleh kepala suku/orang tua (Tonomotuo) dalam perkembangannya terbentuklah beberapa kampung yang membentuk Distrik/setingkat Kecamatan (O Tobu) yang dikepalai oleh Putobu. Dikarenakan akan pertumbuhan yang semakin pesat maka terbentuklah berbagai distrik-distrik lainnya yang membentuk suatu tatanan wilayah masyarakat Tolaki yang disebut Wonua (setingkat Kabupaten) yang dipimpin oleh seorang Raja (Mokole)
Orang Tolaki pada mulanya menamakan dirinya Tolohianga (orang dari langit) hal ini mungkin dikarenakan mereka berasal dari daratan yang tinggi/Pegunungan Tangkelaboke (asumsi). Menurut Tarimana, R (1993), mungkin yang dimaksud “langit” adalah “kerajaan langit” sebagaimana dikenal dalam budaya Cina (Granat, dalam Needhan; 1973, yang dikutip Tarimana). Dalam dugaannya, ada keterkaitan antara kata “hiu” yang dalam bahasa Cina berarti “langit“ dengan kata “heo” (Tolaki) yang berarti “ikut dari langit”.
Pada pemaparan diatas asal-usul budaya dan peradaban Tolaki tampaknya lebih mudah diterima jika dikaitkan dengan pola migrasi noe-litikum.Selain asal-usulnya, hal yang sukar diketahui dengan pasti adalah masa pemerintahan raja-raja, dalam legenda rakyat terdapat dua kerajaan lokal yang besar (Konawe dan Mekongga).Menurut tradisi tutur, raja Sangia Ngginoburu (Konawe) dan raja Sangia Nibandera (Mekongga) diperkirakan memerintah pada saat Islam telah diterima (Tarimana, R; 1993).
Ciri dan budaya arsitektur Tolaki masih dalam penelusuran namun dalam perkembangannya ciri dan budaya arsitektur Tolaki terletak pada rumah adat orang Tolaki itu sendiri.Berdasarkan pemaparan Ir. Sachrul Ramadhan. MT (2004) dalam Seminar Penelusuran Arsitektur Tradisional Tolaki membagi pendapat beberapa ahli seperti Cohen, A. P (1985) yang berpendapat bahwa dalam masyarakat tradisional, sering kali dipandang bahwa rumah merupakan wujud microcosmos dari keseluruhan alam semesta. Setiap unsur yang membentuk rumah, melambangkan unsur-unsur tertentu dari alam semesta
Dari hasil studi arsitektural dan etnografi, yang menjadi core elemen dalam rumah adat Tolaki adalah 9 jajar tiang dengan diperkuat balok lintang (powuatako) dan memanjang (nambea).Dalam jajaran tiang ini terdapat satu tiang utama yang disebut dengan tiang petumbu yang terletak ditengah baris dan lajur ke-9 tiang ini.
Arsitektur Tolaki maksudnya adalah bangunan yang digunakan untuk tujuan propessional ataupun administrasi menampilkan ciri budaya arsitektur setempat dengan maksud dapat memberikan jati diri, sebagai aspirasi pemerintah mengenai hubungan pemerintah dengan masyarakat yang mencerminkan peningkatan pelayanan dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Yang terpenting dari semua itu adalah arti dari tarian Lulo sendiri, yang mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam menjalani kehidupannya. Seperti filosofi masyarakat Tolaki yang diungkapkan dalam bentuk pepatah samaturu, medulu ronga mepokoaso, yang berarti masyarakat Tolaki dalam menjalani perannya masing-masing selalu bersatu, bekerja sama, saling tolong–menolong dan bantu-membantu.

·         SUKU MEKONGGA

Suku Mekongga, adalah salah suatu komunitas masyarakat adat yang berdiam di kabupaten Kolaka dan sebagian kecil juga terdapat di kabupaten Kolaka Utara Sulawesi Tenggara. Suku Mekongga merupakan salah satu sub-etnik dari suku Tolaki.Menurut orang Tolaki, bahwa orang Mekongga adalah orang Tolaki juga. Istilah Mekongga, konon berasal dari kata "to mekongga", yang berarti "to" berarti "orang" dan "mekongga" berarti "pembunuh burung elang raksasa", jadi kata "to mekongga" berarti "orang yang membunuh burung elang raksasa". Sedangkan burung elang raksasa dalam bahasa Mekongga adalah "Konggaha’a".
Kabupaten Kolaka tempat kediaman suku Mekongga ini disebut juga sebagai "Bumi Mekongga". Di daerah pemukiman orang Mekongga terdapat sebuah gunung yang bernama gunung Mekongga.Menurut orang Mekongga sendiri gunung Mekongga merupakan gunung keramat. Menurut cerita rakyat, di gunung ini terdapat Tebing Putih yang bernama Musero-sero yang merupakan pusat kerajaan jin untuk wilayah Kolaka Utara.
Dari satu cerita rakyat bahwa asal usul orang Mekongga, adalah berasal dari 2 kelompok orang dalam waktu yang sama sedang melakukan perjalanan migrasi ke daratan Sulawesi Tenggara. Kelompok pertama bermukim pertama kali di daerah hulu sungai Konaweeha, melalui daerah Mori dan Bungku bagian timur laut Sulawesi. Sedangkan kelompok lain melalui danau Towuti dan terus ke arah selatan. Kedua kelompok ini bertemu di suatu tempat yang disebut Rahambuu dan tinggal beberapa lama, dan terjadi percampuran etnis setelah melakukan perkawinan campur di antara mereka, sehingga mereka menjadi satu etnis.Setelah sekian lama hidup di tempat ini, kelompok ini terpecah dua dan pergi meninggalkan tempat ini.Kelompok pertama berjalan menyusuri lereng gunung Watukila lalu membelok ke arah barat daya dan sampai di suatu tempat yang mereka namakan Lambo, Laloeha, dan Silea.Mereka inilah yang kemudian menamakan diri sebagai orang Mekongga yang menempati wilayah Kolaka sekarang.Sedangkan yang satu kelompok berjalan menyururi sungai Konaweeha dan tiba di suatu tempat yang bernama Andolaki, lalu dari tempat ini, mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di suatu tempat yang luas yang ditumbuhi alang-alang dan tempat ini mereka namakan Unaaha.Tempat ini kemudian menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Konawe yang wilayahnya meliputi seluruh wilayah Kabupaten Kendari. Di tempat ini lah mereka berkembang menyebarkan wilayah pemukiman dengan cara menempati daerah-daerah yang subur untuk berlandang, berburu, beternak dan selanjutnya kelompok ini menamakan diri mereka sebagai orang Tolaki Konawe.
Berdasarkan cerita di atas, maka ada anggapan bahwa suku Mekongga dan suku Tolaki adalah berasal dari suatu tempat yang sama. Walaupun pada dasarnya saat ini mereka memiliki identitas yang berbeda, tetapi berdasarkan asal usul sejarah, mereka berasal dari satu nenek moyang yang sama. Masyarakat Mekongga dalam menjaga alam mereka memiliki tata aturan adat sendiri dalam mengelola alam sekitar mereka. Membuka lahan baru dengan cara membakar masih dipraktekan oleh suku Mekongga, tapi dengan tata aturan adat mereka. Pembukaan kawasan hutan dengan cara menebang pepohonan dan membakarnya dilakukan dengan beberapa tahapan:
  • Monggiikii ando'olo, pemilihan lokasi perladangan
  • Mohoto o wuta, upacara pra monda’u
  • Mosalei, menebang pepohonan kecil, menebas akar-akaran dan lain-lain
  • Monduehi, menebang pepohonan besar
  • Humunu, membakar
  • Mo'enggai, membersihkan sisa-sisa pembakaran
  • Motasu, menanam padi
  • Mosara dan Mete'ia, membersihkan rerumputan dan menjaga tanaman
  • Mosawi, panen
  • Molonggo, memasukan ke dalam lumbung
Oleh karena itu suku Mekongga tidak pernah secara kasar membuka lahan, semua telah diatur oleh sistem adat suku Mekongga, sehingga kelestarian alam tetap terjaga.Masyarakat suku Mekongga pada umumnya hidup pada bidang pertanian.Mereka menanam padi sebagai tanaman pokok mereka.Selain itu mereka juga menanam jagung, ubi kayu dan ubi jalar.Beberapa hewan ternak juga menjadi kegiatan tambahan bagi mereka.Di antara mereka ada juga yang menjadi pedagang dan juga berprofesi sebagai nelayan penangkap ikan.Saat ini banyak juga dari orang Mekongga yang telah bekerja di sektor swasta dan sektor pemerintahan.
·         SUKU MORONENE

Suku Moronene adalah salah satu dari sekian banyak kelompok masyarakat adat-dulu sering disalahartikan sebagai suku terasing-di Sulawesi Tenggara.Di kaki pulau yang mirif huruf K itu ada suku Buton, Muna, Tolaki dan Mekongga.
Menurut antropolog Universitas HaluoleoKendari, Sarlan Adi Jaya, Moronene adalah suku asli pertama yang mendiami wilayah itu.Namun, pamornya kalah dibanding suku Tolaki karena pada abad ke-18 kerajaan suku Moronene-luas wilayahnya hampir 3.400 kilometer persegi-kalah dari kerajaan suku Tolaki.
Kata "moro" dalam bahasa setempat berarti serupa, sedangkan "nene" artinya pohon resam, sejenis paku yang biasanya hidup mengelompok.Kulit batangnya bisa dijadikan tali, sedangkan daunnya adalah pembungkus kue lemper.Resam hidup subur di daerah lembah atau pinggiran sungai yang mengandung banyak air.Sebagai petani, peramu, dan pemburu, suku Moronene memang hidup di kawasan sumber air.Mereka tergolong suku bangsa dari rumpun Melayu Tua yang datang dari Hindia Belakang pada zaman prasejarah atau zaman batu muda, kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi.
Tidak diketahui kapan tepatnya suku Moronene mulai menghuni kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Tetapi sebuah peta yang dibuat pemerintah Belanda pada tahun 1820 sudah mencantumkan nama Kampung Hukaea, yakni kampung terbesar orang Moronene, yang sekarang masuk dalam areal taman nasional itu. Permukiman mereka tersebar di tujuh kecamatan, enam di Kabupaten Buton dan satu di Kabupaten Kolaka.Di luar komunitas itu, orang Moronene menyebar pula di beberapa tempat seperti Kabupaten Kendari karena terjadinya migrasi akibat gangguan keamanan dari Darul Islam sekitar tahun 1952-1953.
Kampung Hukaea, Laea, dan Lampopala biasa disebut orang Moronene sebagai Tobu Waworaha atau perkampungan tua bekas tempat tinggal para leluhur. Orang-orang Moronene masih sering mengunjungi tobu untuk membersihkan kuburan leluhur mereka ketika hari raya Idul Adha tiba-sebagian warga Moronene beragama Islam.Belakangan, setelah beberapa kuburan digali dan dipindahkan oleh orang tak dikenal, orang-orang Moronene bermukim kembali di Hukaea-Laea.Di zaman administrasi pemerintah Belanda, Hukaea termasuk distrik Rumbia, yang dipimpin seorang mokole (kepala distrik). Rumbia membawahkan 11 tobu, tujuh di antaranya masuk dalam wilayah taman nasional. Menurut Abdi, dari LSM Suluh Indonesia, jumlah orang Moronene di Sulawesi Tenggara saat ini diperkirakan sekitar 50000an, 0,5 persen di antaranya tinggal dalam kawasan taman nasional.
Seperti kebanyakan masyarakat adat lainnya, orang Moronene juga melakukan perladangan berpindah dengan sistem rotasi.Tapi sistem itu sudah lama ditinggalkan dan mereka memilih menetap.Suku Moronene juga dikenal pandai memelihara ekosistem mereka.Jonga atau sejenis rusa, misalnya, masih sering ditemui di sekitar permukiman mereka di Hukaea, termasuk burung kakatua jambul kuning, satwa endemik Sulawesi yang dilindungi.Namun, sifat asli suku ini, yang memegang tegung adat mosobu (pasrah dan tidak melawan), dan etos kerjanya yang rendah membuat mereka rentan terhadap penggusuran.
Buktinya, kehidupan tenang itu perlahan-lahan terusik ketika pemerintah di tahun 1990 menetapkan kawasan itu sebagai taman nasional. Dengan alasan itulah aparat Pemda Sulawesi Tenggara mengerahkan polisi dan tentara menggelar Operasi Sapu Jagat untuk mengusir keluar orang-orang Moronene.Alasannya, biar hutan tak rusak sehingga bisa dijual sebagai obyek ekoturisme dan sumber pendapatan da-erah lainnya.Padahal, hak masyarakat adat atas tanah ulayat mereka diakui oleh Undang-Undang Kehutanan tahun 1999.

1.      Adapun persamaan, perbedaan dan manfaat dari suku-suku tersebut dalam kehidupan sehari-hari, yakni:
·         Persamaan:
1)      Kelima suku tersebut yakni untuk memenuhi kebutuhannya dalam sehari-hari yaitu dengan bertani dan berkebun.
2)      Mayoritas pemeluk agama Islam.
·         Perbedaan :
1)      Untuk suku Buton, dan Suku Muna kita untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di samping berkebun dan bertani mereka juga melaut yaitu sebagai seorang nelayan lain halnya dengan suku Tolaki, Mekongga, dan Moronene yakni sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan bertani dan berkebun, dan sebagian lainnya pada suku Mekongga yakni dengan beternak.
2)      Dari segi fisik dari suku-suku tersebut yakni
o   Bentuk fisik dari suku Buton tidak jauh beda dengan Muna Dari bentuk tubuh, tengkorak, warna kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal) namun jika kita telusuri mengenai arsitek rumah di suku Buton kita akan dapati adanya symbol naga di atap rumah dan itu mencerminkan simbol Tionghoa. Kemudian kita dapat benda-benda artefak dalam kehidupan suku Buton.
o   Orang Muna asli memiliki kemiripan dengan suku-suku Polynesia dan Melanesia di Pasifik dan Australia. Dari bentuk tubuh, tengkorak, warna kulit (coklat tua/hitam), dan rambut (keriting/ikal) terlihat bahwa orang Muna asli lebih dekat dengan suku-suku yang ada di Pulau Flores dan Kepulauan Maluku. Tipikal Muna mirip dengan kebudayaan suku-suku di Nusa Tenggara Timur dan Pulau Timor dan Flores umumnya dan Kepulauan Maluku.
o   Suku tolaki Berbagai bentuk dan warna serta letak pemakaian pakaian, perhiasan serta kelengkapan itu mempunyai makna simbolik menurut pandangan masyarakat suku Tolaki. Dari bentuk dan jenis pakaian dapat memberikan pertanda terhadap ciri dan identitas suku bangsa. Pakaian adat suku Tolaki agak lebih condong menyerupai bentuk-bentuk pakaian orang Melayu. Hanya nampak kesederhanaannya, terutama pemakaian sarung berlapis-lapis pada kaum wanita tidak terdapat pada mereka. Menilik warna pakaian dizaman lampau, ternyata bahwa pakaian berwarna putih adalah untuk orang kebanyakan.Suku Tolaki memiliki kemiripan dengan Melayu dan Mongoloid dan bermata sipit.
o   Suku mekongga Orang Mekongga secara definitif mendiami wilayah kabupaten Kolaka (Kolaka dan Kolaka Utara) serta beberapa wilayah yang masuk kabupaten lain di Sulawesi Tenggara. Secara antropologis (cieee tawwaaaa) perawakan orang Mekongga bisa deskripsikan sebagai : Kulit kuning langsat atau putih langsat, rambut lurus atau berombak, mata agak sipit, postur atau tinggi badan sedang (+- 160 - 170 cm). Ciri-ciri fisik tersebut susah juga dibedakan jika bertemu dengan salah satu suku asli lainnya seperti Moronene (Mornene atau Marunene) dan suku yang mendiami pulau-pulau sekitar Konawe dan Kendari. Tapi amat sangat bisa dibedakan dengan suku Muna dan Buton dari segi tampilan fisik. 
o   Suku MoroneneSelama delapan tahun, Bombana menjadi daerah otonom bentuk fisik hamper sama dengan bentuk fisik suku Mekongga dan Tolaki yakni warna kulit kuning langsat namun jarang kita dapati bermata sipit seperi suku Tolaki dan Mekongga kebanyakan.
·         Manfaat sistem sosial budaya dari suku-suku yang ada di Sultra dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
1)      Adanya tradisi kangkilo pada SukuButon  yang merupakan modal sosial budaya masyarakat Buton teleh mengajarkan kepada masyarakat dari suku ini untuk mewujudkan keselarasan dan keharmonisan hidup mereka. Kearifan itu telah membentuk karakter dari prilaku masyarakat orang Buton yang sesuai dengan nilai, etika, dan juga moral yang telah tertanam sejak lama dalam tradisi mereka.
2)      Adanya beberapa namaRasi bintang pada suku Muna yang dijadikan sebagai petunjuk untuk melakukan aktifitas pertanian dan meramal akan suatu musim. Misalnya saja Rasi Bintang yang di namakan Fele, apabila rasi bintang ini sudah mulai terlihat jelas, maka aktifitas membersikan lahan segera di mulai sebab satu bulan lagi hujan pertama akan turun. Apabila hujan sudah turun maka pembakaran lahan dimulai
3)      Adanya tarian Lulo pada suku Tolaki yang mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam menjalani kehidupannya. Kemudian  filosofi masyarakat Tolaki yang diungkapkan dalam bentuk pepatah samaturu, medulu ronga mepokoaso, yang berarti masyarakat Tolaki dalam menjalani perannya masing-masing selalu bersatu, bekerja sama, saling tolong–menolong dan bantu-membantu.
4)      Masyarakat Mekongga dalam menjaga alam mereka memiliki tata aturan adat sendiri dalam mengelola alam sekitar mereka. Mereka tidak pernah secara kasar membuka lahan, semua telah diatur oleh sistem adat suku Mekongga, sehingga kelestarian alam tetap terjaga.
5)      Suku Moronene juga dikenal pandai memelihara ekosistem mereka. Jonga atau sejenis rusa, misalnya, masih sering ditemui di sekitar permukiman mereka di Hukaea, termasuk burung kakatua jambul kuning, satwa endemik Sulawesi yang dilindungi.

4 komentar:

  1. Sangat disayangkan kepada sang penulis yang banyak sekali membalikan Fakta Tentang Muna Dan Buton ... Refrensi anda sangat tidak Konsisten dengan berbagai Sumber... Saya Asli orang muna

    BalasHapus
  2. mohon sertakan daftar pustaka yang lengkap. terimakasih

    BalasHapus
  3. Jgn menulis artikel mengikuti suku apa anda. Logikanya daratan Sultra sangat luas dibanding kepulauan. Kabupaten Kolaka, Koltim,kolut,Konawe,Konsel,konut,KDI mayoritas adalah Tolaki. Dan karena Tolaki menghargai sesama manusia, maka suku2 lain yg datang pun menjadi berdampingan.

    BalasHapus